Kelemahan Break Even Point

 

Dalam pemakaian analisis break even point terdapat kelemahan sehingga harus disadari keterbatasan yang dikandung model ini. Menurut Sofyan Syafri Harahap (2013:364) kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Asumsi yang menyebutkan harga jual konstan padahal kenyataannya harga ni kadang-kadang harus berubah sesuai dengan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar. Untuk menutupi kelemahan itu, maka harus dibuat analisis sensitivitas untuk harga jual yang berbeda.
  2. Asumsi terhadap cost.

Penggolongan biaya tetap dan biaya variabel juga mengandung kelemahan. Dalam keadaan tertentu untuk memenuhi volume penjualan biaya tetap tidak bisa tidak harus berubah karena pembelian mesin-mesin atau peralatan lainnya. Demikian juga perhitungan biaya variabel per unit juga akan dapat di pengaruhi perubahan ini.

  1. Jenis barang yang dijual tidak selalu satu jenis.
  2. Biaya tetap juga tidak terlalu selalu tetap pada berbagai kapasitas
  3. Biaya variabel juga tidak selalu sejajar dengan perubahan volume.

 

Sedangkan menurut Kasmir (2013:336) mengemukakan beberapa kelemahan dari analisis titik impas, diantaranya:

  1. Perlu asumsi

Artinya analisis titik impas membutuhkan banyak asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya dengan pendapatan. PadahalĀ  terkadang asumsi yang digunakan sudah tidak sesuai dengan realita yang terjadi ke depan.

  1. Bersifat Statis

Artinya analisis ini hanya digunakan pada titik tertentu, bukan pada suatu periode tertentu.

  1. Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir

Artinya analisis titik impas hanya baik digunakan jika ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan.

  1. Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik

Artinya jika aliran kas telah ditentukan melebihi aliran kas yang harus dikerjakan, proyek dapat diterima dan hal-hal lainnya dianggap sama.

  1. Hubungan penjualan dan biaya

Hubungan penjualan dan biaya adalah dalam hal biaya, jika penjualan dilakukan dalam kapasitas penuh, tetapi memerlukan tambahan penjualan, akan ada tambahan biaya tenaga kerja atau upah yang mengakibatkan naiknya biaya variabel dan jika diperlukan tambahan peralatan atau pabrik. Maka, biaya tetap juga akan meningkat.

  1. Kurang mempertimbangkan risiko-risiko yang terjadi selama masa penjualan.

Artinya selama masa penjualan begitu banyak risiko yang mungkin dihadapi, misalnya kenaikan harga bahan baku, yang akan berpengaruh terhadap harga jual dan pada akhirnya akan berpengaruh kepada jumlah penjualan secara keseluruhan baik unit maupun rupiah.

  1. Pengukuran kemungkinan penjualan.

Artinya jika hendak membuat grafik pulang pokok yang didasarkan kepada harga penjualan yang konstan, untuk melihat kemungkinan laba pada berbagai tingkat harga harus dibuatkan semua seri grafik untuk tiap tingkat harga.

Namun meskipun analisis titik impas memiliki banyak kelemahan, manajemen masih dapat menggunakannya sebagai salah satu alat perencanaan keuangan, terutama perencanaan laba produksi, maupun perencanaan penjualan ke depan. Hanya saja bagaimana perusahaan dapat melihat kelemahan diatas sebagai bahan koreksi atau pertimbangan lain dalam menentukan kebijakannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *